Showing posts with label hal. Show all posts
Showing posts with label hal. Show all posts

Friday, December 13, 2013

7 Hal Yang Bikin Pria Takut Menikah

Baik pria dan wanita, semua tentu memiliki ketakutan tersendiri terkait pernikahan. Menikah tidak hanya tentang cinta, tetapi juga mengenai kemantapan hati. Jika seseorang belum mantap hatinya untuk menikah, meski dia memiliki pasangan sekalipun, dia belum tentu berani melangkah ke jenjang yang lebih serius.

7 Hal Yang Bikin Pria Takut Menikah

Berikut ini adalah tujuh hal yang bikin pria takut untuk menikah. Yuk simak bersama!

1. Masalah keuangan
Keadaan ekonomi yang dirasa belum mencukupi menjadi pertimbangan pria untuk tak menikah dulu. Bagaimanapun, menikah juga butuh modal dan masalah keuangan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan saat hendak menikah. Apalagi pria adalah calon kepala rumah tangga yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah.

2. Tidak bebas
Siapa pun suka kebebasan dan kebanyakan pria berpikir bahwa setelah menikah, mereka tidak akan bisa sebebas saat masih bujangan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa pria terkadang takut untuk menikah atau melangkah ke jenjang yang lebih serius.

3. Trauma dengan kegagalan
Tidak sedikit pria yang trauma dengan kegagalan perkawinan kedua orangtua mereka. Daripada mengulang sejarah buruk perkawinan kedua orang tuanya, mending mereka urung menikah.

4. Mengganggu karir
Di era modern seperti sekarang, karir menjadi salah satu hal yang diprioritaskan dalam kehidupan seseorang. Pria yang sangat fokus pada karir tentu akan benar-benar mempertimbangkan tentang pernikahan, karena mungkin dia takut itu akan mengganggu karirnya di masa depan. Apalagi jika karirnya saat ini sedang menanjak.

5. Takut punya anak
Takut punya anak menjadi salah satu penyebab mengapa pria ingin menunda pernikahannya. Menjadi seorang bapak tentunya juga membutuhkan kemantapan hati, sehingga tak semua pria bisa melakukannya.

6. Tak disukai keluarga
Bagaimanapun, pernikahan tidak hanya mempersatukan dua sejoli, melainkan tentang dua keluarga. Jadi, ketika seorang pria mengenalkan calon istrinya kepada keluarganya dan ternyata keluarganya tak menerimanya, itu tentu akan menghambat pernikahannya. Di satu sisi, dia mungkin sangat mencintai kekasihnya. Namun di sisi lain, dia juga tak mungkin melawan kehendak orang tuanya.

7. Bosan
Konon pernikahan membuat para pria terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja, bekerja, jemput istri terus pulang ke rumah. Pernikahan juga menuntut mereka untuk tinggal dalam kehidupan yang sunyi, terkontrol, dan sarat privasi.

ReadFull Article ..

Saturday, November 30, 2013

9 Hal tentang Karir Masa Depan


Jika Anda baru lulus atau masih calon dari pendidikan tinggi, maka Anda sebenarnya tidak tahu banyak, seperti apa hari-hari yang akan Anda lewati di kantor jika nanti Anda mendapatkan pekerjaan. Akan seperti apa pekerjaan Anda? Apa yang akan diharapkan oleh bos dan kolega terhadap diri Anda? Dunia kerja sedang mengalami perubahan dengan sangat drastis. Tipikal tempat kerja tampak sangat berbeda dari tipikal kantor pada 20 tahun yang lalu. Teknologi baru dan perubahan gaya hidup menuntut Anda untuk bekerja dengan cara yang berbeda dari orangtua Anda dulu.

Inilah kecenderungan utama yang perlu Anda cermati:


1. Lingkungan kerja telah berubah
Dengan teknologi baru, orang bisa bekerja dengan lebih cerdas, dan menggunakan waktu lebih sedikit untuk hal-hal yang tidak produktif. Secara global, pekerja menghabiskan rata-rata satu jam untuk pergi ke kantor. Tapi, makin luas dan cepatnya koneksi internet memungkinkan mereka bekerja sedikitnya sekali dalam seminggu dari rumah, dan itu menghemat dua jam perjalanan ke kantor per hari.
Sebuah survei baru di Inggris memperlihatkan bahwa hampir separo dari perusahaan terbaik mengizinkan karyawan untuk mengerjakan tugas mereka di rumah. Tentu saja bekerja dari rumah menimbulkan pertanyaan, seperti bagaimana yang bersangkutan bisa fokus dan produktif. Tapi, teknologi juga mengatasi masalah itu dengan solusi-solusi seperti workstreaming, di mana orang bisa dipantau oleh atasan dengan perangkat online.
Seiring makin banyaknya karyawan yang bekerja dari rumah dan melahirkan apa yang disebut kantor virtual, banyak perusahaan mengurangi ruangan untuk karyawan. Bahkan, banyak karyawan kini tak punya meja di kantor. Mereka membawa laptop ke mana-mana, dari rumah ke kantor dan ketika bertemu klien. Di kantor, mereka bisa memakai meja mana saja yang tersedia. Bagi perusahaan, ini mengurangi biaya untuk listrik dan sewa ruang.
Pada sisi lain, ketika banyak perusahaan “mempersempit” kantor mereka, sejumlah perusahaan lain memperbanyak fasilitas untuk menarik talent terbaik mereka. Google misalnya, menyediakan kafetaria, salon, bengkel mobil, kelas bahasa, kelas senam dan voli pantai. Perusahaan lain berusaha menyediakan fasilitas-fasilitas khusus.


2. Selain lingkungan kerja, waktu untuk bekerja pun berubah. 
Rumus lama jam kerja, dari 9 hingga 5, kini ditantang untuk lebih fleksibel. Pada hari-hari tertentu, Anda harus menyelesaikan laporan sehingga pulang agak malam. Pada hari lain, Anda bisa pulang cepat untuk pergi ke tempat fitnes atau nonton pekan pemutaran film bersama teman-teman. Fleksibilitas menjadi aturan main baru yang dituntut di mana-mana. Jam kerja yang fleksibel tidak hanya memungkinkan Anda bekerja sesuai permintaan, tapi juga ketika suatu hari Anda bekerja lebih lama, Anda bisa mengambil libur sebagai gantinya pada hari lain.
Masih berkaitan dengan fleksibilitas kerja, kini makin banyak perusahaan yang memberikan cuti panjang bagi karyawan. Ini fasilitas yang menarik terutama bagi generasi muda, generasi Anda yang ingin punya kesempatan sekali dalam setahun untuk bepergian jauh.


3. Sekarang, bagaimana dengan pekerjaan itu sendiri? Teknologi menjadi faktor terpenting. 
Makna “bekerja” berubah secara dramatis seiring dengan perubahan pada penggunaan teknologi. Sejumlah pekerjaan menjadi kuno, dan pekerjaan baru, muncul. Kini, kita menggunakan email, mengirim pesan instan, melakukan riset secara online dan memanfaatkan program-program komputer otomatis untuk menyelesaikan pekerjaan.
Anda akan memasuki dunia kerja yang telah diwarnai dengan pertumbuhan komputer game, dan sambil bekerja Anda berkirim SMS dan pesan instan kepada teman-teman. Anda diperhitungkan sebagai generasi yang memiliki perangkat skill yang menuntut bos Anda untuk mengelolanya generasi serba bisa, dan memiliki sedikit kesabaran untuk meeting panjang.


4. Jadi, Anda diharapkan lebih berdaya dan lebih bagus dalam memecahkan persoalan dibandingkan generasi pendahulu Anda.
Tentu saja, jika teknologi dengan sangat efektif bisa meningkatkan efisiensi kerja, dia juga bisa mengganggu produktivitas. Teknologi membawa dampak (buruk) di kantor. Pekerja kini punya jaringan email yang harus selalu dicek, ada video-video dari YouTube yang bisa dilihat setiap saat, dan game realitas virtual yang bisa dimainkan sambil bekerja. Semua itu menuntut perusahaan untuk melakukan pengawasan, dan bila perlu tindakan pencegahan.


5. Bagaimana dengan gaji?
Penting untuk diketahui sejak dini, meskipun harapan terhadap diri Anda terus meningkat, tapi gaji rupanya belum mengikuti. Berbagai riset menunjukkan, kesenjangan (gaji) antara top management dengan karyawan “biasa” masih akan lebar. Jadi, Anda harus tetap kerja keras dan mencapai puncak untuk mendapatkan gaji tinggi.


6. Yang jelas, kini Anda tahu bahwa kaum pengusaha telah dan semakin peka untuk membahagiakan karyawan dengan berbagai bentuk fasilitas.
Namun, Anda juga perlu tahu bahwa kini mulai muncul kader baru karyawan yang bekerja pada bidang-bidang pekerjaan yang ekstrem. Extreme job. Harvard Business Review mendefinisikannya sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh para profesional bergaji tinggi yang bekerja dengan gila: cepat, dibawah deadline ketat, bekerja sampai di luar jam kerja reguler, siap sedia untuk klien 24 jam sehari 7 hari seminggu, berada di kantor sedikitnya 10 jam sehari, sering bepergian, pekerjaan mengandung banyak hal tak terduga, dan memiliki tanggung jawab yang luas.


7. Fakta-fakta:
The Hidden Brain Drain Task Force, sebuah kelompok pemantau tren dunia kerja di AS mensurvei 6% individu bergaji paling tinggi secara global. Hampir 10% dari para super worker itu menghabiskan lebih dari 100 jam setiap minggu untuk pekerjaan mereka. Empatpuluh dua persen mengambil 10 hari libur setiap tahun, dan beberapa dari mereka mengaku selalu menunda rencana liburan mereka.


8. Apakah Anda terobsesi menjadi pekerja ekstrem seperti itu?
Sejumlah pengusaha yang smart, bagaimana pun, akan mencermati efek-efek jangka panjang dari pekerjaan-pekerjaan ekstrem dan mendorong para pekerja-super itu untuk lebih memperhatikan keseimbangan hidup dan kerja.


9. Apa karir masa depan yang tengah atau akan Anda incar? 
Mungkin akuntan, manajer, tenaga pemasaran, atau peneliti? Atau, mungkin Anda baru saja merasa bahwa Anda punya energi besar untuk mencoba pekerjaan ekstrem? Permintaan terhadap pekerjaan ekstrem memang akan terus meningkat, tapi jika kita melihat lebih jauh ke depan, pekerjaan-pekerjaan baru yang eksotik akan lebih terbuka.
ReadFull Article ..